Batutumonga Kampung di Atas Awan

Batutumonga merupakan kota kecil yang terletak di lereng Gunung Sesean di kecamatan Sesean Suloara, terletak 24 km sebelah utara dari kota Rantepao, memiliki panorama yang indah. Sepanjang perjalanan dari kota Rantepao menuju Batutumonga dilalui jalan yang berkelok-kelok dan pada beberapa ketinggian tertentu pemandangan yang sangat eksotik dapat dinikmati dengan suhu udara yang dingin dan segar. Pemandangan ke arah kota Rantepao dan Lembah Sa’dan yang berada di kejauhan di kaki gunung.

BatutumongaSalah satu point of view di Batutumonga

 Adapun pemandangan yang dapat dinikmati antara lain:

1. Tinimbayo

Tinimbayo berada ketinggian 1225 m dpl dengan posisi koordinat S 02°54’13.9” dan E 119°54’12.4”.

Tinimbayo Coffee Shop sebagai salah satu tempat terbaik untuk menyaksikan bentang keindahan alam Toraja dari ketinggian. Dari sini, hamparan sawah dan deretan rumah tongkonan yang dikelilingi hutan bambu adalah pemandangan yang indah.

tinambayo01View dari Tinambayo

2. Restoran Mentirotiku

Restoran Mentirotiku berada ketinggian 1352 m dpl dengan posisi koordinat S 02°54’36.4” dan E 119°53’01.0”.

Sebelum Restoran Mentirotiku didirikan, rumah pemilik restoran ini  yang biasa disapa Pong Sobon berupa tongkonan (rumah adat Toraja) sering menjadi tempat persinggahan wisatawan untuk istirahat sambil menikmati keindahan alam. Atas saran dari guide dan wisatawan maka pada tahun 1990 restoran Mentirotiku didirikan.

Mentirotiku5View dari Restoran Mentirotiku

 Selain pemandangan hamparan sawah dan gunung, anda dapat bersantai di Restaurant Mentirotiku Batutumonga. Anda dapat menikmati makanan kuliner asli Toraja. Cool and  hot drink, makanan ringan dan lainnya yang disajikan.

Bagi anda yang ingin menikmati indahnya pemandangan lampu kota Rantepao di malam hari, di tempat ini tersedia penginapan dengan harga yang bervariasi.

 

3. Lo’ko Mata

Lo’ko Mata berada ketinggian 1458 m dpl dengan posisi koordinat S 02°54’03.2” dan E 119°51’32.1”.

Nama Lo’ko’ Mata diberi kemudian oleh karena batu alam yang dipahat ini menyerupai kepala manusia, tetapi sebenarnya liang Lo’ko’ Mata sebelumnya bernama Dassi Deata atau Burung Dewa, oleh karena liang ini ditempati bertengger dan bersarang jenis-jenis burung yang indah-indah warna bulunya, dengan suara yang sangat mengasyikkan tetapi kadang-kadang menakutkan.

Lokko mataMenurut cerita disana pada abad ke-14 (1480) datanglah seorang pemuda bernama Kiding memahat batu raksasa ini untuk makam mertuanya yang bernama Pong Raga dan Randa Tasik. Selanjutnya pada abad ke-16 tahun 1675 lubang rang kedua dipahat oleh Kombong dan Lembang. Dan pada abad ke-17 lubang yang ketiga dibuat oleh Rubak dan Datu Bua’. Liang pahat ini tetap digunakan sampai saat ini saat kita telah memasuki abad XX (milenium III). Luas areal objek wisata. Lo’ko’ Mata ±1ha dan semua lubang yang ada sekitar 60 buah.

 

Share on Facebook0Email this to someoneTweet about this on Twitter0Share on Google+0Print this page

Leave a Reply